IN THE HEART OF THE SEA (2015) REVIEW : An Old-School Survival Movie
Type Here to Get Search Results !

IN THE HEART OF THE SEA (2015) REVIEW : An Old-School Survival Movie


Setelah sukses memukau para penonton lewat film Rush di tahun 2013, Ron Howard akhirnya kembali dilirik oleh rumah produksi besar dengan proyek terbarunya. Terang saja, bukan hanya rumah produksi yang berharap banyak, melainkan juga para penonton yang mencoba untuk bersemangat akan proyek terbarunya. In The Heart of The Sea, proyek terbaru dari Ron Howard ini memiliki hype yang cukup tinggi dan berkemungkinan menjadi kontender Academy Awards tahun depan.

In The Heart of The Seadiangkat dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Nathaniel Philbrick di tahun 2000. In The Heart of The Sea bisa menjadi sebuah karya yang fenomenal karena menceritakan tentang salah satu kisah yang mengilhami buku legendaris karangan Herman Mellville, Moby Dick. Jelas, lewat tangan Ron Howard tak salah jika penonton akan berekspektasi lebih atas apa yang disajikan olehnya. Apalagi, kiprahnya di Academy Awards telah disadari oleh para Juri.

In The Heart of The Seamemiliki konten Academy Awards yang bisa untuk diandalkan. Hanya saja, Ron Howard melupakan bagaimana potensi besar milik In The Heart of The Sea untuk menjadi lebih dari sekedar survival movie genre. Sehingga, In The Heart of The Sea pun terjebak ke dalam film-film serupa yang sudah pernah dilihat sebelumnya. Ron Howard tak mencoba menawarkan sesuatu yang spesial kecuali suguhan visual efek megah dengan sokongan format IMAX tiga dimensi yang mewah. 


Film ini dimulai ketika Herman Mellville (Ben Wishaw) ingin mencari bahan untuk ditulis ke dalam buku terbarunya. Dia pun berkelana untuk bertemu dengan Thomas Nickerson (Brendan Gleeson), salah seorang awak kapal yang menjadi saksi akan peristiwa besar dalam hidupnya. Dia menjadi salah satu awak  dari kapal Essex yang berkelana menuju samudera luas dan bertemu dengan paus putih yang mengubah makna hidupnya.

Thomas muda (Tom Holland) pada saat itu hanya menjadi awak kapal yang diam. Bersama dengan sang nahkoda dan asistennya, George Pollard (Benjamin Walker) dan Owen Chase (Chris Hemsworth), mereka berburu ikan Paus untuk dicari minyaknya. Sayangnya, George dan Owen tidak memenuhi  target minyak yang mereka janjikan. Sehingga, dia berlaut lebih jauh untuk mencari ikan Paus yang lebih banyak. Tetapi, mereka malah bertemu dengan Paus putih yang memorak porandakan mereka dan awak kapalnya. 


In The Heart of The Sea akan mengingatkan kita pada film milik Ang Lee yang juga diadaptasi dari novel legendaris, Life of Pi. Sehingga tak salah, jika penonton akan berekspektasi lebih atas hasil akhir dari Ron Howard dalam In The Heart of The Sea yang akan tampil prima layaknya Life of Pi. Cara bertutur yang digunakan oleh Ron Howard mirip dengan bagaimana Ang Lee bertutur lewat film Life of Pi. Hanya saja, dasar cerita yang digunakan memiliki dasar cerita yang berbeda dengan film arahan Ang Lee.

Disayangkan, ketika konten kuat yang dimiliki oleh Ron Howard lewat In The Heart of The Sea terkesan disia-siakan. Ron Howard terlihat sangat memiliki ambisi kuat yang ingin dia curahkan ke dalam film terbarunya. Hanya saja, keambisiusan itu malah berbuah tak manis dalam presentasi secara keseluruhan di dalam In The Heart of The Sea. Ron Howard terlalu berusaha keras sehingga In The Heart of The Sea hanya muncul sebagai sebuah survival movie yang generik.

Tak ada kedalaman cerita yang diidamkan oleh Ron Howard di dalam presentasi akhir In The Heart of The Sea. Ingin menceritakan segala kontemplasi akan kehidupan lewat metaforik perjalanan kapal Essex bersama awaknya, Ron malah membuat In The Heart Of The Sea hanya sebagai sebuah film survival yang pernah kita lihat sebelumnya. Dengan keambisiusan yang terlalu besar, presentasi film ini pun tak tampil secara prima. 


Emosionalitas cerita dalam film terbaru karya Ron Howard ini menjadi sebuah keraguan yang besar.  Kualitas akting dari para jajaran aktornya lah yang dapat menutupi segala kegagalan aspek bertutur dari Ron Howard dalam In The Heart Of The Sea. Emosionalitas itu hanya timbul dalam sebuah momentum getir yang memang bisa terlihat cukup maksimal. Hanya saja, setelah itu tak ada lagi kekuatan yang tersisa untuk menjalankan 120 menit yang disiapkan oleh Ron Howard dalam film ini.

Penonton mencoba mencari faktor lain yang bisa membuat In The Heart of The Sea berbeda dengan film-film bertema lainnya. Dan selama 120 menit, Tak ada yang dapat menemukan faktor lain yang dapat membuat In The Heart of The Sea menjadi alternatif tontonan survival movie genre. Pun, Ron Howard lupa untuk mengemas cerita dan bertuturnya yang sudah usang menjadi sebuah kemasan yang baru. Sehingga, penonton dapat melupakan poin-poin usang yang ada di dalam filmnya. 


Beruntung, visual efek megah di dalam In The Heart of The Sea setidaknya bisa menjadi pelipur lara bagi penontonnya. Panorama-panorama indah lautan pasifik dikolaborasikan dengan efek tiga dimensi yang tak kalah megah, membuat penonton setidaknya terserap ke dalam perjalanan awak kapal Essex dalam mencari jawaban akan kehidupannya. Paling tidak, poin itu lah yang dapat membuat penonton tidak merasa rugi menyaksikan In The Heart of The Sea.

Bagaimana film ini sudah mendapatkan hype dari beberapa kalangan yang menyebut bahwa In The Heart of The Seabakal ‘menang’ besar, nyatanya Ron Howard malah tenggelam bersama keambisiusannya. In The Heart of The Seapun jatuh menjadi presentasi survival movie tanpa terobosan baru atau pun berusaha mengemasnya menjadi sajian yang segar. Ron Howard hanya menggunakan formula usang yang malah berdampak tak baik baginya dalam bertutur. Beruntung, sisi teknis yang superior menjadi sokongan bagi In The Heart of The Sea.