Para Jenderal Kesayangan Bung Karno (yang Bernasib Tragis) Pasca Jatuhnya Rezim Orde Lama

Daftar Isi (toc)

Mereka dikenal sebagai putra-putra kesayangan Bung Karno. Namun mereka kemudian disingkirkan.

Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letnan Jenderal Ahmad Yani seringkali merasa jengkel dengan ulah sebagian koleganya di kemiliteran. Sebab, beberapa jenderal mempunyai akses khusus untuk melapor kepada Presiden Soekarno. Karuan saja Yani merasa tak senang karena hal tersebut melangkahi dirinya selaku panglima. Atau bisa jadi Yani cemburu, menyadari bahwa Bung Karno mempunyai anak emas lain.

Saat itu siapapun pasti sudah maklum bahwa Yani merupakan anak emas Bung Karno. Bahkan Bung Besar ini menginginkan Yani kelak menggantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Fakta lainnya adalah, Yani merupakan satu-satunya Kepala Staf Angkatan Darat (Panglima AD) yang ditunjuk oleh Soekarno. Pada 1962, Bung Karno mempercayakan Yani untuk menjadi pemimpin AD menggantikan Jenderal Abdul Haris Nasution. Nah, pengangkatan Yani ini otomatis melangkahi para jenderal yang lebih senior seperti Mayjen Soeharto, Letjen R. Soedirman, Mayjen Soeprajogi, dan Mayjen Sungkono. Dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama, secara jujur Nasution mengakui betapa karibnya Yani dan Bung Karno.

"Jenderal Yani mempunyai cara pendekatan dan pergaulan yang dihargai oleh Presiden. Dibanding dengan hubungan saya yang cukup kaku dengan beliau, maka hubungan Jenderal Yani dengan beliau adalah cukup intim," kenang Nasution. Menurut Nasution, Yani yang menangkap tugas sebagai Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi (KOTI), kemudian lebih sering bertugas di istana menghadap langsung kepada Bung Karno. Keduanya pun cocok dalam pergaulan pribadi.

Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani

Dalam disertasinya, Politik Militer Indonesia 1945-1967, Ulf Sundhaussen mengungkap sebab mengapa Yani sangat berkesan di hati Soekarno. Dibanding Nasution, Yani yang halus dan berbudi bahasa lebih supel memahami karakter high profile Soekarno. Soekarno pun mengharapkan Yani dapat ditarik ke dalam lingkungan pengikutnya di Istana.

Namun ternyata Yani tidak sendirian di jejeran jenderal pilihan. Baik di lingkungan AD, AU, dan AL Soekarno punya jenderal andalan. Para loyalis Bung Karno dari kemiliteran ini memainkan peran penting menjaga Soekarno di masa-masa genting Demokrasi terpimpin.

"Terdapat sejumlah perwira tinggi AD yang dikenal sebagai de beste zonen van Soekarno, putra-putra kesayangan Soekarno yang belum tentu komunis, bahkan ada diantaranya yang amat anti-komunis, namun akan lebih patuh kepada Soekarno sebagai Panglima Tertinggi," tulis Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan. Siapa sajakah mereka?

Setia tapi Merana

Selain Yani, Jenderal AD dengan citra sebagai orang dekat Presiden Soekarno adalah Panglima Siliwangi, Mayjen Ibrahim Adjie. Loyalitas Adjie terbukti ketika terjadi gejolak pasca Gerakan 30 September 1965 menggoyang kepemimpinan Soekarno. Arsip Rahasia Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) yang telah dideklasifikasi menyebut Adjie sebagai "Jenderal Anti Komunis" namun amat setia kepada Bung Karno. Di saat banyak kalangan perwira AD mulai memperlihatkan sikap anti-Soekarno, Adjie tetap tampil sebagai pelindung Bung Karno.

"Dalam keadaaan dimana Adjie memegang kontrol atas Jawa Barat maka suatu ancaman fisik dari pihak tentara terhadap pribadi atau kedudukan Bung Karno menjadi hampir tak mungkin lagi," tulis Sundhaussen.

Mayjen Ibrahim Adjie


Di luar AD, tercatat pula beberapa nama, antara lain: Laksamana Madya Udara Omar Dhani dan Panglima KKO AL Mayjen Hartono. Dari Angkatan Kepolisiana ada Jenderal Polisi Soetjipto Judodihardjo.

Soekarno menyenangi Omar Dhani yang muda, tampan dan flamboyant. Sebaliknya, Omar Dhani adalah pengagum berat Soekarno. "Sewaktu Laksdya Udara Omar Dhani menjadi Men/Pangau, seluruh ajaran Bung Karno menjadi satu-satunya pegangan politik. Omar Dhani juga menginginkan setiap insan AURI menjadi kleine Soekarnotjes atau Soekarno-soekarno Kecil," tulis Benedicta A Surodjo dan JMV Soeparno dalam  biografi Omar Dhani berjudul Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dhani.

Menpangau Laksamana Madya Udara Omar Dhani


Hartono barangkali yang paling menonjol. Sebagaimana ditulis Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru, Soekarno sebenarnya hendak mengangkat Hartono menjadi Panglima AL menggantikan Laksamana R. E. Martadinata. Namun mengingat jabatan tersebut jatahnya untuk korps pelaut, maka Laksamana Mulyadi yang dipilih sedangkan Hartono menjadi Wakil Panglima AL.

Dikala situasi kritis menjelang para menterinya diringkus menyusul desas-desus prajurit RPKAD akan menyerbu istana, Soekarno memercayakan keselamatan dirinya kepada Hartono. Pada 10 Maret 1966, Soekarno mendatangi Markas KKO di Cilandak, mengonfirmasi Hartono apakah KKO sanggup menghadapi RPKAD. Hartono tegas menjawaab "Sanggup!". Hartono menyatakan KKO cukup kuat dan sanggup menegakkan wibawa Soekarno. Dan sejak itu KKO diperintahkan untuk bersiap siaga penuh.

"Pada hari-kari yang sent itu, Jenderal Hartono, Panglima KKO mengawal langsung Bung Karno, ia duduk dalam mobil di samping Presiden saat meninggalkan istana, setelah pengamanan menteri-menteri ini," ujar Nasution.

Panglima KKO, Jenderal Hartono


Selain pasukan KKO, Jenderal Polisi Soetjipto Joedodihardjo memerintahkan Brimob untuk berjaga dan melindungi Bung Karno. Brimob menjadi unit kepolisian paling loyal mendukung Soekarno. Komandan Brimob Kolonel Polisi Anton Soedjarwo juga dikenal sebagai pendukung Soekarno yang gigih.

Ketika rezim berganti, semua Jenderal loyalis Soekarno ini dicopot dari kedudukannya. Beberapa diantaranya mengalami akhir hidup yang merana. Pada 1966, Ibrahim Adjie dikirim ke London untuk menjadi Duta Besar Indonesia bagi Kerajaan Inggris. "Soeharto mengganti Jenderal Ibrahim Adjie dengan Jenderal HR Dharsono, yang mengubah Divisi Siliwangi menjadi kesatuan militer anti-komunis dan anti-PKI yang paling menyedihkan," ujar jurnalis kawakan Belanda Willem Oltmans dalam memoarnya Bung Karno Sahabatku.

Omar Dhani kemudian dipenjara selama 30 tahun oleh rezim Orde Baru dengan tudingan berkomplot dengan Gerakan 30 September. Nasib Hartono lebih tragis lagi. Setelah ditendang ke Pyongyang, Korea Utara sebagai Duta Besar, Hartono dipanggil pulang ke Indonesia sebelum masa tugasnya selesai untuk menjalani pemeriksaan.

Pada pagi buta 6 Januari 1971, Hartono ditemukan terbujur tak bernyawa di kediamannya di dekat Manggarai. Dia meninggal dalam keadaan bersimbah darah dengan 2 butir peluru bersarang di bagian belakang kepalanya. Sebuah pistol jenis Makarov tergeletak tak jauh dari jasad Hartono. Tanpa menunggu visum, secara resmi Hartono dinyatakan bunuh diri. Namun beberapa orang terdekat meyakini kematian Hartono akibat pembunuhan politik.

Find Out
Related Post

Ikuti Hotgirlsinc.com pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan Berita Terupdate tentang Dunia Pendidikan dan Hiburan). Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

Top Post Ad

Below Post Ad